Latest Posts
Showing posts with label Tajwid. Show all posts
Showing posts with label Tajwid. Show all posts

Saturday, 11 February 2017

HUKUM NUN MATI DAN TANWIN (Part 1: Idzhar dan Iqlab)

No comments:






HUKUM NUN MATI DAN TANWIN
Yang dimaksud nun mati yaitu huruf nun yang bertanda sukun ( نْ). Sedangkan yang dimaksud dengan tanwin disini adalah fathahtain, kasrohtain dan dhommahtain.

Dalam ilmu tajwid, apabila nun mati dan tanwin bertemu dengan salah satu huruf hijaiyah maka akan terbentuk suatu hukum. Disini para ulama membagi ke dalam 5 (lima) macam hukum bacaan nun mati dan tanwin, yaitu Idzhar, Idghom bighunnah, Idghom bilaghunnah, Iqlab dan Ikhfa.

A. IDZHAR HALQI


Idzhar adalah memisahkan antara dua huruf sambil menjauhkannya.

Ketika membaca idzhar, yang perlu diperhatikan adalah menampakkan (menunjukkan) dzat tanwin atau nun mati dan tidak melebihkan pada sukunnya.

Idzhar terjadi disebabkan makhraj nun dengan huruf idzhar yang merupakan huruf halq berkejauhan sehingga perlu jarak yang diberikan pada ucapan mereka karena nun merupakan huruf lisan (lidah) sedangkan huruf-huruf idzhar merupakan huruf halq (tenggorokan).

Derajat Idzhar ada tiga (3), yaitu:
1. 'Ulyaa: Bila setelah tanwin dan nun mati terdapat huruf ( أ) dan ( ھ)
2. Wusthoo: Bila setelah tanwin dan nun mati terdapat huruf (ع) dan (ح)
3. Adnaa: Bila setelah tanwin dan nun mati terdapat huruf (خ) dan (غ)

Hukum Idzhar: Ulama qiraat berittifaq pada empat (4) huruf pertama dari huruf Idzhar yaitu huruf ( أ) , ( ھ) , (ح) , (ع) , sementara untuk huruf (خ) dan (غ) kecuali Imam Jafar semua membaca dengan Idzhar sehingga hukum membaca dengan Idzhar adalah wajib, dikarenakan muttafaqun 'alaih.

Contoh bacaan Idzhar:

B. IQLAB



Iqlab adalah mengubah nun sakinah atau tanwin  menjadi mim yang murni (sempurna) dan memberikannya ikhfa yang disertai ghunnah di sisi ba.

Huruf Iqlab adalah ba . Apabila tanwin atau nun sakinah bertemu dengan huruf ba, hukumnya dibaca Iqlab.

Hal yang perlu diperhatikan sewaktu membaca Iqlab adalah:
1. Tanwin atau nun sakinah diubah menjadi mim yang khalis (murni)
2. Menyamarkan mim sebelum membaca ba

Sebab dilakukannya Iqlab adalah huruf ba dan mim makrajnya sama dan dari segi sifat jahr, istifal, infitah, dan idzlaq memiliki kesamaan. Selain itu mim dan nun juga memiliki kesamaan dari sifat ghunnah, jahr, tawasuth, istifal, dan infitah-nya. Ketika nun sakinah berada sebelum mim dikarenakan makhrajnya agak jauh, maka idgham antar mereka tidak dimungkinkan. Oleh karena itu nun sakinah perlu diubah menjadi mim saudara ba.

Catatan: dari segi bacaan Iqlab dan Ikhfa syafawi tidak ada banyak perbedaan.

Contoh bacaan Iqlab ialah:

Continue Reading...

Wednesday, 25 January 2017

Sifat Huruf Hijaiyah

No comments:






SIFAT HURUF HIJAIYAH

Menurut ilmu tajwid, sifat adalah keadaan (kayfiyyah) suara huruf yang muncul ketika huruf dikeluarkan dari makhrajnya. Sifat-sifat huruf berguna untuk:
+ Membedakan huruf-huruf semakhraj
+ Membedakan huruf kuat/tebal dengan huruf dhaif/lunak
+ Mengindahkan pelafalan huruf-huruf yang berbeda makhraj

Sifat-sifat huruf terbagi menjadi dua (2) bagian

1) Sifat-i Lazimah: yaitu sifat-sifat yang berhubungan dengan dzat huruf dan tidak boleh terpisah dari huruf tersebut. Meninggalkan atau mengubah sifat-i lazimahnya sebuah huruf dapat menyebabkan kesalahan fatal yang dapat membatalkan shalat.

2) Sifat-i Aridzah: yaitu sifat-sifat yang tidak berhubungan dengan dzat huruf dan dapat dipisahkan dari huruf. Apabila sifat-i aridzah ditinggalkan atau diubah biasanya kesalahan yang terjadi adalah kesalahan yang tidak membatalkan shalat.

Sifat-i lazimah terbagi menjadi dua (2), yaitu:
a. Sifat yang memiliki lawan
b. Sifat yang tidak memiliki lawan

A. SIFAT YANG MEMILIKI LAWAN (Ash-Shifatul Mutadhadah- لصِّفَاتُ اْلمُتَضَادَةُ)

# Berdasarkan Segi Nafas

1)  الْهَمْسُ (Al-Hams), Hams menurut bahasa artinya halus, sedangkan menurut istilah, hams adalah mengalirnya/keluarnya nafas ketika mengucapkan huruf. Hurufnya adalah
فَحَثَّهُُ شَخْصٌ سَكَتَ

2)  الْجَهْرُ (Al-Jahr), Jahr menurut bahasa adalah jelas, sedangkan menurut istilah, jahr adalah tertahannya aliran/hembusan nafas ketika mengucapkan huruf. Huruf-hurufnya adalah selain huruf hams.

# Berdasarkan Segi Suara

3) الشِّدَّةُ (Asy-Syiddah), Syiddah menurut bahasa artinya kuat, sedangkan menurut istilah syiddah ialah tertahannya suara ketika mengucapkan huruf. Huruf-hurufnya yaitu
أَجِدُ قَطٌّ بَكَتْ
 Lawan dari Asy-Syiddah adalah Ar-Rokhoowah.

4)  الرَّخاَوَةُ (Ar-Rokhoowah), Ar-Rokhoowah atau Rikhwah menurut bahasa artinya lembut. Sedangkan menurut istilah, Rikhwah adalah berjalannya (tidak tertahan) suara ketika mengucapkan huruf, yaitu
ث ح خ ذ ز س ش ص ض ظ ف و ه ي غ
Antara Asy-Syiddah dengan Ar-Rokhoowah, disebut juga dengan huruf Tawasuth atau Al Mutawassith  

5) Tawasuth/Al-Mutawassith, yaitu dikenal dengan huruf pertengahan antara Asy-Syiddah dan Ar-Rokhoowah, hurufnya yaitu 
 لن عمر

6) الاِسْتِعْلاََءُ (Al-Isti'la), Isti'la menurut bahasa adalah terangkat. Sedangkan menurut istilah, isti'la adalah terangkatnya pangkal lidah ke langit-langit atas ketika mengucapkan huruf. Hurufnya ada delapan, yaitu
خُصَّ ضَغْطٍ قِظْ
Lawan dari Al-Isti'la adalah Al-Istifal
 
7) الاِسْتِفاَلُ (Al-Istifal), Istifal menurut bahasa artinya merendah atau menurun. Sedangkan menurut istilah, Istifal ialah menurunnya pangkal lidah dari langit-langit (tetap berada di bawah) ketika mengucapkan huruf. Huruf-hurufnya ada dua puluh, yaitu selain huruf Al-Isti'la.

8) الاِطْباَقُ (Al-Ithbaq), Ithbaq menurut bahasa artinya menempel. Sedangkan menurut istilah ialah menempelnya lidah dengan langit-langit ketika mengucapkan huruf. Huruf-hurufnya yaitu
ص ,ض ,ط , ظ
Lawan dari Al-Ithbaq adalah Al-Infitah.

9) الاِنْفِتاَحُ (Al-Infitah), Menurut bahasa, Infitah artinya terbuka. Sedangkan menurut istilah ialah terlepasnya lidah dari rongga atas, serta terbukanya kedua bibir. Huruf-hurufnya ada dua puluh lima (25), yaitu selain huruf Al-Ithbaq.

10) الاِذْلاَقُُ (Al-Idzlaq), Idzlaq menurut bahasa ialah bagian lancip lidah, sedangkan menurut istilah artinya mengucapkan huruf dengan mudah, karena posisi makhrajnya berada di ujung lidah atau bibir. Huruf-hurufnya yaitu
فِرَّ مِنْ لُبٌّ
Lawan dari Al-Idzlaq adalah Al-Ishmat.

11) الاِصْماَتُ (Al-Ishmat), Ishmat menurut bahasa artinya tercegah. Sedangkan menurut istilah ialah mengeluarkan huruf dengan agak susah atau tertahan. Hurufnya yaitu selain dari huruf Al-Idzlaq.

B. SIFAT YANG TIDAK MEMILIKI LAWAN (Ash-Shifatul Ghairu Mutadhadah - الصِّفَاتُ غَيرُ اْلمُتَضَادَةُ atau Sifat ‘Aridhah - ﻋﺎﺭﻀﻪ)

1) ﺻﻔﺮ (Ash-Shafir), Shafir menurut bahasa artinya suara yang menyerupai siulan/cuitan burung. Sedangkan menurut istilah ialah suara tambahan yang keluar dengan kuat di antara ujung lidah dan gigi seri. Huruf-hurufnya yaitu
ص, ز , س

2) ﻗﻠﻘﻠﻪ (Al-Qolqolah), Menurut bahasa, Qolqolah artinya gemetar atau bergetar. Sedangkan menurut istilah, Qolqolah adalah suara tambahan (pantulan) yang kuat dan jelas yang terjadi pada huruf yang bersukun setelah menekan pada makhraj huruf tersebut. Hurufnya ada lima (5), yaitu
قُطْبُ جَدٍّ

3) ﻟﻴﻦ (Liin), Secara bahasa berarti lunak atau lembut Sedangkan menurut istilah ialah membunyikan huruf dengan lunak atau lembut sewaktu keluar dari makrajnya. Sifat ini hanya berlaku jika huruf tersebut mati dan sebelumnya ada huruf berharakat fathah. Hurufnya ada dua (2) yaitu
و dan ي

4) ﺇﻧﺤﺮﺍﻑ (Inhiraf), secara bahasa artinya miring atau condong. Sedangkan menurut istilah, berarti menyondongkan lidah dari satu sisi ke sisi lain setelah keluar dari ujung lidah.  Hurufnya ada dua (2), yaitu (ر) miring bagian punggung lidahnya dan (ل) miring bagian permukaan lidahnya.


5) ﺗﻜﺮﻳﺮ (At-Takriir), secara bahasa berarti mengulangi atau menggetarkan sesuatu. Sedangkan menurut istilah ialah menggetarkan lidah sewaktu mengucapkan huruf. Getaran yang dibolehkan hanya sekali, bahkan dalam keadaan tasydid sekalipun. Hurufnya yaitu 
(ر)

6) ﺗﻔﺸﻰ (At-Tafasysyi), secara bahasa artinya menyebar, sedangkan menurut istilah adalah menyebarkan suara antara lidah dengan langit-langit di atasnya ketika mengeluarkan huruf (ش)

7) ﺇﺳﺘﻂﺎﻟﻪ (Al-Istithoolah), secara bahasa berarti memanjangkan. Sedangkan menurut istilah yaitu menempelkan samping lidah ketika mengucapkan huruf (ض) mulai gusi samping sampai makraj (ل) sehingga keluar suara yang agak panjang.

Berikut adalah latihan untuk materi Makhraj dan Sifat Huruf Hijaiyah.



Continue Reading...

Saturday, 14 January 2017

Makharijul Huruf

No comments:

MAKHARIJUL HURUF (TEMPAT KELUAR HURUF)

Menurut ahli lughoh, jumlah huruf dalam bahasa Arab ada 28 huruf dan dijejerkan sebagai berikut:


Sedangkan menurut ulama qira'at, jejeran huruf tergantung makhraj (tempat keluar) hurufnya. Sebagian besar ulama qira'at berpendapat bahwa makharijul huruf ada tujuh belas (17) tempat dan terletak pada lima (5) mawdhi'. Kelima mawdhi' itu adalah:
1. Mawdhi' Al-Jawf (Makhraj yang terletak di rongga mulut)
2. Mawdhi' Al-Halq (Makhraj yang terletak di tenggorokan)
3. Mawdhi' Al-Lisaan (Makhraj yang terletak di lidah)
4. Mawdhi' Asy-Syafatain (Makhraj yang terletak di dua bibir)
5. Mawdhi' Al-Khoysyuum (Makhraj yang terletak di pangkal hidung)


Sekarang kita akan membahasnya satu per satu sesuai dengan urutan Mawdhi' nya.

A. Mawdhi' Al Jawf
Dalam Mawdhi' ini, makhrajnya ada di rongga mulut dan rongga tenggorokan; merupakan tempat keluar huruf mad, yaitu:alif ( ا ), wawu mati ( وْ ) dan ya mati ( يْ ).



B. Mawdhi' Al-Halq
Dalam Mawdhi' ini, terdapat tiga makhraj, yaitu:
- Pangkal tenggorokan (aqshol halqi); yang mendekati dada, merupakan tempat keluar huruf hamzah ( ء ) dan ha' ( ه )
- Tenggorokan tengah (wasathul halqi); adalah tempat keluarnya huruf ha ( ح ) dan 'ain ( ع )
- Ujung tenggorokan (adnal halqi); adalah tempat keluarnya huruf kho ( خ ) dan ghoin ( غ )


C. Mawdhi' Al-Lisaan
Dalam Mawdhi' ini ada 10 makhraj, diantaranya
- Pangkal lidah dengan langit-langit bagian dalam atau belakang; artinya pangkal lidah yang paling dekat dengan kerongkongan dihimpitkan ke langit-langit mulut bagian dalam atau belakang. Hurufnya yaitu Qof (ق).
- Pangkal lidah dengan langit-langit bagian dalam atau belakang agak keluar sedikit makhrajnya dari makhraj huruf Qof. Hurufnya adalah huruf Kaf (ك). Huruf Qof dan Kaf disebut juga huruf Lahawiyah ( لهويّة ), artinya huruf telak lidah atau anak mulut.
- Lidah bagian tengah atas dengan langit-langit yang ada tepat di atasnya. Huruf yang keluar yaitu Jim ( ج ), Syin ( ش ), dan ( ي ). Huruf ini disebut huruf Syajariyah ( شجريّة ), artinya huruf-huruf tengah lidah.
- Sisi atau tepi lidah bertemu dengan geraham atas; huruf yang keluar adalah huruf Dhod ( ض ). Huruf ini disebut juga dengan huruf Jambiyah (حنبيّة), artinya huruf tepi lidah.
- Lidah bagian depan setelah makhraj Dhod dengan gusi atas; hurufnya yaitu Lam (ل).
- Lidah bagian depan setelah makhraj Lam; yaitu huruf Nun (ن).
- Ujung lidah tepat dengan langit-langit atas setelah makhraj Nun; hurufnya yaitu Ro (ر). Huruf Lam, Nun dan Ro disebut juga huruf Dzalqiyah (ذلقية), artinya huruf sebangsa ujung lidah.
- Ujung lidah dengan gusi pangkal dua buah gigi seri atas; huruf-hurufnya adalah Ta (ت), Dal (د), dan Tho (ط). Tiga huruf ini disebut huruf Nath'iyah (نطغية), artinya huruf sebangsa kulit gusi atas.
- Ujung lidah dengan rongga antara gigi atas dengan gigi bawah, namun lebih dekat dengan gigi bawah; huruf-hurufnya yaitu Shod (ص), Sin (س), dan Zai (ز). Tiga huruf tersebut dikenal dengan huruf Asaliyah (أسلية), artinya huruf sebangsa runcing lidah
- Ujung lidah dengan ujung dua buah gigi seri depan atas; huruf yang keluar yaitu Tsa (ث), Dzal (ذ), dan Dzo  (ظ). Huruf-huruf tersebut dikenal dengan huruf Litsawiyah
(لثوية).



D. Mawdhi' Asy-Syafatain
Dalam Mawdhi' ini ada dua makhraj, antara lain:
- Makhraj bagian tengah dari bibir bawah bagian dalam dengan ujung dua buah gigi seri atas; hurufnya adalah Fa (ف).
- Kedua bibir atas dan bawah, untuk kedua bibir tertutup hurufnya adalah Ba (ب) dan Mim (م), sedangkan untuk kedua bibir membentuk bulatan hurufnya adalah Wawu
(و).



E. Mawdhi' Al-Khoysyuum
Hanya ada satu makhraj, ialah pangkal hidung, yaitu makraj yang terletak pada janur hidung. Jika kita menutup hidung saat melafadzkan huruf tersebut, maka tidak dapat terdengar. Adapun huruf-hurufnya adalah huruf ghunnah (dengung) Mim dan Nun, dengan persyaratan:
- Mim bertasydid (مّ) dan Nun bertasydid (نّ)
- Nun sukun yang dibaca idghom bighunnah, iqlab dan ikhfa haqiqi
- Mim suku yang bertemu dengan huruf Mim dan Ba  
Inilah tempat keluar (makhraj) huruf hijaiyah. Kita wajib mengetahui dan memahami seluruh makhrajnya, agar dapat mengeluarkan huruf dari tempat yang benar. 



Continue Reading...

Saturday, 7 January 2017

Ta'awudz dan Basmalah

1 comment:





TA'AWUDZ DAN BASMALAH

A. TA'AWUDZ

Ta'awudz atau isti'adzah ialah bacaan untuk memohon perlindungan kepada Allah dari godaan atau gangguan syaithon. Menurut Imam Ibnul Jazari, bacaan ta'awudz itu sebagai pensuci mulut. Sedangkan dalil disyari'atkan membaca ta'awudz sebelum memulai membaca ayat-ayat Al Qur'an yaitu QS. An-Nahl: 98 ;





Artinya: "Apabila kamu membaca Al Qur'an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaithon yang terkutuk."

Selain itu juga ada dalam QS. Fushilat: 36 dan QS. Al-A'raaf: 200 ...

Bahkan ada yang berpendapat bahwa ta'awudz juga harus dibaca jika saat membaca Al Qur'an, bacaannya terputus oleh suatu hal seperti menjawab salam atau yang lainnya.

Tujuan dari membaca ta'awudz selain berlindung dari gangguan  syaithon, juga berfungsi untuk membedakan antara perkataan Al Qur'an dan yang bukan Al Qur'an, serta menjadi tanda perhatian bahwa akan dibacakan ayat Al Qur'an.

Lafadz ta'awudz yang kita kenal ada dua macam, yaitu;




Sedangkan cara membaca ta'awudz dibagi menjadi empat, antara lain:

  1. Dibaca dengan volume pelan ketika sedang tilawah dengan volume suara yang pelan
  2. Dibaca pelan ketika sedang sendirian, meskipun kita tilawah bersuara
  3. Dibaca keras bila tilawah keras, dan ada orang lain yang mendengarkan
  4. Ketika bergantian, bisa dibaca oleh orang pertama saja

B. BASMALAH 

Allah Azza wa Jalla memulai kitab-Nya dengan bacaan basmalah dalam setiap awal surah, kecuali surah At-Taubah. Bacaan basmalah yang disyariatkan yaitu;


Dalilnya terdapat dalam QS An-Naml: 30;

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak tahu awal dari sebuah surah sebelum turun basmalah.

Cara membaca basmalah, yaitu:
  1. Dibaca ketika memulai tilawah dari awal surah, kecuali surah At-Taubah
  2. Ketika tilawah dimulai dari tengah surah, basmalah boleh dibaca boleh tidak

C. CARA MEMBACA TA'AWUDZ, BASMALAH DAN AWAL SURAT

Cara pertama: Dipisah semua

Cara kedua: Disambung semua


Cara ketiga: Menyambung basmalah dengan awal surah, sedangkan ta'awudz dipisah

Cara keempat: Menyambung ta'awudz dengan basmalah, sedangkan awal surah dipisah

Continue Reading...

Friday, 30 December 2016

Tata Cara Membaca Al Quran

No comments:

TATA CARA MEMBACA AL QURAN


Mayoritas ulama qiraat sepakat bahwa Al Quran dapat dibaca dengan beberapa macam bacaan, hal ini sesuai dengan dalil dalam Al Quran surah Al Muzammil: 20,

... فاقرؤوا ما تيسر من القرآن ...

Artinya: " ...Maka itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran ... "

Tata cara membaca Al Quran menurut para ulama, ada yang membagi dengan tiga macam, namun ada juga yang membagi empat macam. Disini akan mencoba membahas pembagian berdasarkan empat macam, yaitu membaca secara tahqiq, membaca secara tartil, membaca secara tadwir, dan membaca secara hadr.

Tahqiq ialah membaca Al Quran dengan memberikan hak-hak setiap huruf secara tegas, jelas dan teliti. Seperti memanjangkan mad, menyempurnakan harakat, serta melepas huruf secara pas makhrajnya, dengan perlahan, memperhatikan panjang pendeknya, waqaf dan ibtida, tanpa merampas huruf. Untuk memenuhi hal-hal tersebut, metode tahqiq tekadang tampak memutus-mutus dalam membaca huruf-huruf dan kalimat-kalimat Al Quran, dan cenderung seolah-olah ada saktah di antara kalimatnya. Durasi bacaan dengan cara tahqiq yaitu sekitar 45 - 60 menit per juz.

Sebagian ulama menganggap bahwa tahqiq dan tartil adalah sama. Walau begitu, terdapat perbedaan antara tahqiq dan tartil, yaitu tartil lebih menekankan aspek merenungi dan memahami kandungan ayat Al Quran tersebut, sedangkan tahqiq lebih ke arah aspek bacaan dengan tujuan membimbing ta'lim atau tahsinul Quran. Inilah yang menjadi dasar perbedaan antara ulama dalam membagi cara membaca Al Quran seperti yang disampaikan di awal materi tadi.

Tadwir ialah membaca Al Quran dengan memanjangkan mad, namun tidak sampai penuh. Tadwir merupakan cara membaca yang sering dipakai dalam shalat. Cara membaca inilah yang paling disukai oleh para ulama. Karena Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu pernah berkata, "Janganlah kalian membaca Al Quran terlalu lambat seperti kurma yang berserakan, dan jangan pula terlalu cepat seperti syair." Durasi bacaan dengan cara tadwir sekitar 30 - 45 menit per juz.

Adapun Hadr yaitu membaca Al Quran dengan cepat, ringan dan pendek, namun tetap mengedepankan dan memakai peraturan-peraturan tajwid. Durasi bacaan dengan cara ini sekitar 25 - 30 menit.

Selain empat cara membaca Al Quran di atas, ada juga cara bacaan yang disebut Hazramah, yaitu membaca Al Quran dengan cepat, ringan, dan pendek, namun tidak memperhatikan peraturan tajwidnya. Cara baca ini sama sekali tidak dianjurkan oleh seluruh Imam Qiraat.
Continue Reading...

Saturday, 10 December 2016

Muqaddimah Ilmu Tajwid Al Qur'an

No comments:





MUQADDIMAH TAJWID AL QUR'AN

A. Definisi

Menurut bahasa, ilmu tajwid adalah memperbaiki dan memperelokkan atau memperindah sesuatu.
Sedangkan menurut istilah, tajwid adalah membaca Al Qur'an dengan benar sebagaimana bacaan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya, dengan cara mengeluarkan huruf dari makhrajnya secara benar, memenuhi sifatnya dan memperhatikan hukum bacaannya.

Ilmu tajwid adalah sebuah disiplin ilmu yang menguraikan dan mempelajari cara bacaan Al Qur'an dengan baik dan benar. Di antara hal-hal yang dibahas adalah tempat keluar huruf (makhorijul huruf), hubungan antar huruf (ahkamul huruf), tentang panjang pendeknya ucapan (ahkamul maddi wal qasr), dan bagaimana memulai dan menghentikan bacaan (ahkamul waqf wal ibtida).

B. Hukum

Hukum mempelajari teori ilmu tajwid adalah fardhu kifayah atau merupakan kewajiban kolektif. Sedangkan hukum mempraktekkan ilmu tajwid dalam membaca Al Qur'an ialah fardhu 'ain atau kewajiban setiap individu. Sebagaimana yang termaktub dalam Al Qur'an surah Al Muzammil (73) ayat 4.

Menurut Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, yang dimaksud dengan tartil adalah tajwid. Saat beliau ditanya "Wahai Ali, apa maksudnya membaca Al Qur'an dengan tartil ???
Beliau menjawab:



Artinya: "Tartil adalah membaguskan huruf-huruf dan mengetahui tempattempat waqafnya."

Rasulullah juga menjelaskan dalam hadits;

زينواالقرآن باصوا تكم


Artinya: "Hiasilah Al Qur'an dengan suara kalian." (HR. Abu Daud dan An-Nasa'i)

Kewajiban penggunaan tajwid ketika membaca Al Qur'an dijelaskan pula oleh Imam Muhammad Ibnu Jazari (wafat 833 H) dalam kitabnya yang berjudul Muqaddimah dengan bait-bait berikut:


Artinya: "Membaca Al Qur'an dengan tajwid itu hukumnya  wajib. Siapa yang tidak membacanya dengan tajwid adalah orang yang berdosa. Karena Allah subhanahu wa ta'ala menurunkannya dengan tajwid. Dan demikianlah Al Qur'an dari-Nya sampai kepada kita. Tajwid adalah ciri khasnya tilawah. Sekaligus tandanya suara dan qira'at."

C. Tujuan



Artinya: "Menjaga lisan dari kesalahan ketika membaca ayat-ayat suci Al Qur'an atau mendapatkan kebahagiaan dunia akhirat."

Wa'zi atau pencetus ilmu tajwid yakni para imam qira'at (a immatul qira'at). Tentu saja pastinya wa'zi asli dari semua ilmu hakikatnya adalah Allah Azza wa Jalla, sesuai dengan sifatnya 'Aalimul Hakiim.

Mempelajari ilmu tajwid sangat mulia dan lebih diutamakan karena tajwid merupakan salah satu ilmu yang langsung berhubungan dengan Al Qur'an. Mempelajari ilmu tajwid memiliki banyak faedah atau keutamaan. Di antara keutamaannya, yaitu:

1. Merupakan Amal Terbaik

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

Artinya: "Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al Qur'an dan mengajarkannys." (HR. Bukhari)

2. Memberi Syafaat Di Hari Kiamat

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِه


Artinya: "Bacalah Al Qur'an, sesungguhnya ia pada hari Kiamat akan datang menolong pembacanya." (HR. Muslim)

3. Mendapatkan Derajat Yang Tinggi dan Pahala Yang Banyak

الَّذِي يَقْرَأُ القُرْآنَ وَهُوَ مَاهِرٌ بِهِ مَعَ السَّفَرَةِ الكِرَامِ البَرَرَةِ،

وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أجْرَانِ

Artinya: "Orang yang membaca Al Qur'an dan dia mahir membacanya, akan bersama para malaikat yang mulia lagi taat. Sedangkan yang membaca Al Qur'an namun dia tidak tepat dalam membacanya dan mengalami kesulitan, maka baginya dua pahala." (HR. Bukhari no. 4937 dan Muslim no. 244)

4. Mendapat Sakinah dan Rahmat

وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

Artinya: "Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah membaca Kitabullah dan saling mengajarkan satu dan lainnya melainkan akan turun kepada mereka sakinah (ketenangan), akan dinaungi rahmat, akan dikelilingi para malaikat dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di sisi makhluk yang dimuliakan di sisi-Nya. (HR. Muslim no. 2699)

5. Menjadi Pembeda Antara Mu'min dan Munafiq

 مَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي يَقْرَأُ القُرْآنَ مَثَلُ الأُتْرُجَّةِ : رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ ، وَمَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لاَ يَقْرَأُ القُرْآنَ كَمَثَلِ التَّمْرَةِ : لاَ رِيحَ لَهَا وَطَعْمُهَا حُلْوٌ ، وَمَثلُ المُنَافِقِ الَّذِي يقرأ القرآنَ كَمَثلِ الرَّيحانَةِ : ريحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ ، وَمَثَلُ المُنَافِقِ الَّذِي لاَ يَقْرَأُ القُرْآنَ كَمَثلِ الحَنْظَلَةِ : لَيْسَ لَهَا رِيحٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ  .

Artinya: "Perumpaan seorang mu'min yang rajin membaca Al Qur'an adalah seperti buah Al Atrujah; aromanya wangi dan rasanya enak. Perumpamaan seorang mu'min yang tidak membaca Al Qur'an adalah seperti buah Tamr (kurma); tidak ada aromanya namun rasanya manis. Perumpaan seorang munafiq, namun ia rajin membaca Al Qur'an adalah seperti buah Raihanah; aromanya wangi namun rasanya pahit. Sedangkan perumpamaan seorang munafiq yang tidak rajin membaca Al Qur'an adalah seperti buah Hanzhalah; tidak memiliki aroma dan rasanya pun pahit." (HR. Bukhari no. 5427 dan Muslim no. 797)

Continue Reading...